Wisata Candi Borobudur Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Masyarakat

Wisata Candi Borobudur Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Masyarakat

Perencanaan Trail of Civilization dan Pelaksanaan Sound of Borobudur-Music Nation diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Wisata Candi Borobudur yang tertelak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah termasuk salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP). Banyak upaya dilakukan agar destinasi wisata ini bisa menjadi penggerak perekonomian di tengah situasi pandemi.

Seperti misalnya perencanaan penerapan Borobudur Trail of Civilization atau pola perjalanan wisata baru, penyelenggaraan event berskala internasional seperti Sound of Borobudur-Music Over Nations dan beberapa kegiatan untuk kemajuan ekonomi kreatif.

Apa Itu Borobudur Trail of Civilization?   

Borobudur Trail of Civilization merupakan konsep yang direncanakan sebagai pola perjalanan wisata baru di Candi Borobudur. Pola perjalanan ini bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa, melainkan sebagai perjalanan wisata yang banyak mengandung nilai buaya di dalamnya.

Penerapan model wisata baru ini didasarkan pada relief yang terdapat di sepanjang Candi Borobudur sebagai simbol kejayaan kerajaan Hindhu-Buddha pada masa lampau. Kemenparekraf berharap dengan pelaksanaan program ini nantinya bisa mewujudkan wisata budaya yang edukatif dan berkualitas.

Terdapat 5 jenis perjalanan yang dapat dipilih oleh setiap wisatawan nantinya. Adapun beberapa diantaranya yakni Joglosemar Historic Trail, Ancient Kingdom Trail, The Classical Indonesia Batik Route, Buddhist Pilgrimage dan Edu Trail.

Dalam beberapa jenis perjalanan tersebut, kamu bisa melakukan berbagai akttivias menarik di dalamnya. Mulai dari bercocok tanam, belajar membuat gerabah, belajar bermain gamelan, melakukan yoga ataupun menginap di beberapa penginapan yang telah disediakan.

Apa Itu Sound of Borobudur Music Over Nations?

Sound of Borobudur-Music Over Nations: Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Melalui Musik merupakan konferensi musik yang digelar sejak bulan Juni – November 2021.

Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan Candi Borobudur sekaligus merepresentasikan relief di dalamnya menggunakan alat musik. Dengan acara musik yang bertajuk wisata budaya ini, Kemenparekraf berharap banyak agar budaya di Indonesia semakin berkembang.

Musik dipilih sebagai komponen utama dalam acara ini karena musik kerap dianggap sebagai bahasa universal yang bisa digunakan untuk mengggali nilai-nilai universal dalam relief candi.

Apa Hal Menarik dalam Sound of Borobudur?

Sound of Borobudur menampilkan beberapa musisi ternama tanah air seperti Purwacaraka, Dewa Budjana, Trie Utami dan 5 musisi yang mewakili setiap daerah dari 5 Destinasi Super Prioritas Indonesia. Mereka diantaranya ialah Vicky Sianipar, Samuel Glenn, Nur Kholis, Ivan Restore dan Moris.

Tidak hanya beberapa musisi kondang tanah air yang berpartisipasi dalam Sound of Borobudur. melainkan, acara ini juga turut dimeriahkan dengan musisi dari 10 negara seperti Amerika, Filipina, Jepang, Laos, Italia, Myanmar, Taiwan, Tiongkok, Spanyol dan Vietnam.

Hal menarik dalam acara ini ialah permainan alat-alat musik sesuai dengan relief yang terdapat di sepanjang Candi Borobudur. Terdapat kurang lebih 226 relief alat musik dengan berbagai jenis dan cara memainkan yang berbeda-beda seperti jenis alat musik tiup, petik, pukul, membran ataupun asambel.

Sound of Borobudur memainkan beberapa alat musik seperti Suling, Luthe, Ghanta, Simbal, Cangka, Saron dan Gendang. Secara filosofis, alat musik yang dimainkan bersama akan mewujudkan suatu harmonisasi sekaligus sebagai simbol toleransi antar suku, ras dan agama yang ada di Indonesia.

Oleh sebab itu, acara ini diharapkan nantinya bisa memberikan inspirasi lebih kepada musisi tanah air mengingat relief alat musik dalam candi selama ini hanya digunakan sebagai ilmu pengetahuan pasif atau tidak ada pengembangan secara nyata.

Bagaimana Peningkatan Ekonomi Kreatif di Objek Wisata Candi Borobudur?

Acara Sound of Borobudur pada dasarnya tidak hanya dikonsepkan untuk konferensi musik bertajuk budaya, melainkan juga sebagai pameran kreatif lokal yang bisa digunakan sebagai ajang promosi produk khas Candi Borobudur Magelang.

Dalam hal ini, pelaku ekonomi kreatif setempat turut serta dengan cara mempromosikan beberapa jenis produk. Adapun beberapa diantaranya ialah:

1. Kuliner

Kuliner menjadi salah satu produk yang banyak dipromosikan dan banyak menjadi perhatian wisatawan.

Dalam pameran ini kamu bisa menemukan beberapa makanan khas Magelang seperti misalnya Coklat Borobudur, Wang Sinawang, Wedang, Kopi Borobudur, Singkong Keju Mlahar dan Wader Presto.

2. Kriya

Selain produk kuliner, terdapat pula beberapa produk kriya seperti Griya Handicraft, Kriya Kayu Rik Rok, Seruas Production dan Mahadika Rajut.

3. Fesyen

Tidak hanya produk olahan makanan dan kriya, tetapi terdapat pula jenis fesyen khas yakni Batik Borobudur. Kamu bisa menjadikan produk fesyen satu ini sebagai alternatif oleh-oleh ketika berwisata di Candi Borobudur.

Disamping itu, penerapan Borobudur of Civilization nantinya juga diharapkan dapat memberikan kemajuan terhadap ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan seperti pelatihan bercocok tanam, membuat gerabah, bermain gamelan oleh masyarakat setempat ataupun penyewaan penginapan yang dikelola oleh masing-masing Balkondes (Balai Perekonomian Desa)

Dengan demikian, perencanaan Trail of Civilization dan terlaksananya acara Sound of Borobudur sebagai acara music bertajuk budaya sekaligus pameran ekonomi keratif diharapkan dapat menjadi ajang untuk meningkatkan kesejahtaeraan masyarakat sekitar wisata Candi Borobudur.

Wisata